ALFARABI.AC.ID | Di tengah pesatnya arus disrupsi digital dan tantangan global abad ke-21, institusi pendidikan Islam dituntut untuk tidak hanya sekadar bertahan, melainkan menjadi pelopor perubahan yang adaptif tanpa kehilangan esensi spiritualitasnya. Menjawab tantangan besar tersebut, Institut Nasional Nusantara Al Farabi sukses menggelar Seminar Internasional bertajuk “Transformation Leadership in Islamic Education: Building Resilience and Grow Mindset for Global Challenger”.
Acara yang berlangsung secara hybride (format tatap muka (luring) dan virtual (daring) secara bersamaan) di Kampus INN Al Farabi dan platform Zoom Meeting pada Sabtu, 13 Juni 2026, dihadiri lebih dari 500 peserta, menjadi wadah strategis dalam memperkaya wawasan, memperluas jejaring akademik, serta mengembangkan kapasitas kepemimpinan di era global.
Meneguhkan Fondasi Pendidikan Islam di Era Disrupsi
ektor Institut Nasional Nusantara Al Farabi, Dr. Dasep Supriatna, Ph.D., hadir memberikan keynote speech sekaligus membuka acara secara resmi. Dalam sambutannya, Dr. Dasep menekankan pentingnya reposisi kepemimpinan dalam lembaga pendidikan Islam.
“Lanskap pendidikan Islam saat ini dihadapkan pada tuntutan ganda; kita wajib meningkatkan kualitas berstandar global sekaligus kokoh mempertahankan nilai-nilai Islam yang autentik. Perubahan sosial, kehadiran Artificial Intelligence (AI), dan digitalisasi yang masif menuntut respons kepemimpinan yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat. Kepemimpinan transformatif berbasis nilai profetik adalah kunci utama untuk melahirkan generasi yang memiliki ketahanan (resilience) tinggi dan pola pikir berkembang (growth mindset) dalam menghadapi tantangan dunia,” ujar Dr. Dasep Supriatna.
Perspektif Global dan Dimensi Kepemimpinan Transformatif
Seminar ini menghadirkan pembicara internasional, Tariq Bashir, Ph.D., seorang pakar linguistik dari University of Education, Lahore, Pakistan. Dalam paparannya, Tariq Bashir membedah esensi Transformational Leadership (Kepemimpinan Transformatif) yang meliputi empat dimensi inti: Idealized Influence (Pengaruh Ideal), Inspirational Motivation (Motivasi Inspirasional), Intellectual Stimulation (Stimulasi Intelektual), dan Individualized Consideration (Pertimbangan Individual).
“Lembaga pendidikan Islam harus membekali pembelajar dengan keterampilan abad ke-21 guna menghadapi ketidakpastian ekonomi dan disrupsi digital. Integrasi antara nilai fundamental Islam—seperti Amanah, Syura, Adl, dan Ihsan—dengan kerangka kepemimpinan modern akan menciptakan lingkungan pendidikan yang unggul dan berkarakter mulia,” jelas Tariq.
Menyongsong Abad ke-21 dan Tantangan Digitalisasi
Pembicara kedua, Dr. Yuli Marlina, M.Pd. dari Universitas Islam Jakarta, mengulas faset strategis mengenai “Transformasi Kepemimpinan Pendidikan Islam: Menyongsong Masa Depan Islam Abad ke-21”. Dr. Yuli memaparkan empat hambatan kritis yang sering dihadapi oleh pemimpin lembaga pendidikan, yaitu kesenjangan literasi digital, resistensi budaya organisasi, urgensi peningkatan kompetensi guru di era Society 5.0, serta keterbatasan infrastruktur.
“Di era digital, guru bukan lagi sekadar penyampai ilmu, melainkan fasilitator inovatif. Kita memerlukan manajemen SDM yang berbasis kinerja namun tetap bersandar pada tauhid sebagai landasan pengambilan keputusan,” tegas Dr. Yuli.
Membedah Konseptual “At-Tarkib Al-Ibrahimi”
Sesi ilmiah yang sangat menarik perhatian peserta adalah ketika Dr. Irpan Ilmi, S.Hum., M.M. (Institut Nasional Nusantara Al-Farabi) memaparkan materi presentasinya yang bertajuk التركيب الإبراهيمي (At-Tarkib Al-Ibrahimi). Konsep ini membedah peta jalan (roadmap) kepemimpinan pendidikan kontemporer yang menjembatani antara peradaban, spiritualitas (Ar-Ruh), dan keteraturan sistem (An-Nizam).
Dalam materi tersebut, Dr. Irpan menguraikan “Dilema Identitas” (مغضلة الهوية) antara sekularisme administratif yang kaku (الإدارية العلمانية) dan pasivitas spiritual yang stagnan (السلبية الروحية). Sebagai solusi sintesis, beliau menawarkan integrasi konseptual berbasis pemikiran epistemologi Abu Hamid Al-Ghazali (ilmu batin dan lahir) serta sosiologi Ibnu Khaldun (konsep Al-Umran Al-Badawi dan Al-Umran Al-Hadhari).
Model kepemimpinan ini menuntut adanya keseimbangan antara: 1. Rukun Ismaili (Jiwa Organisasi & Resiliensi): Terinspirasi dari keteguhan Nabi Ayub A.S. dalam menghadapi ujian. 2. Rukun Ishaqi (Fisik Organisasi & Tata Kelola Sistemik): Terinspirasi dari manajemen rantai pasok dan kompetensi profesional Nabi Yusuf A.S.
Dr. Irpan menegaskan bahwa sintesis kepemimpinan tertinggi ada pada diri Rasulullah Muhammad SAW, yang mampu memadukan peran sebagai pemimpin spiritual (Qaid Ruhi) sekaligus kepala negara (Rais Dawlah) yang melahirkan Rahmatan lil ‘Alamin.

Ikhtiar Kolektif untuk Masa Depan Umat
Sebagai penutup rangkaian seminar, Dr. Yayat Hidayat, M.Pd.I. yang bertindak selaku pemandu acara sekaligus pembicara, merangkum bahwa ketahanan lembaga pendidikan Islam di masa depan terletak pada sinergi mutakhir antara pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan keteguhan akhlak Islamiah.
Seminar Internasional ini sukses menggerakkan kesadaran kolektif para akademisi, pengelola institusi, dan praktisi pendidikan bahwa masa depan peradaban Islam yang cerah bermula dari keberanian para pemimpinnya untuk berinovasi, adaptif secara global, dan tetap setia pada akar wahyu ilahi.
Siap Menjadi Pemimpin Transformatif Berwawasan Global? Bergabunglah bersama Institut Nasional Nusantara (INN) Al Farabi. Raih pendidikan tinggi berkualitas yang memadukan keunggulan akademik, teknologi modern, dan nilai-nilai spiritual Islam yang luhur. Pendaftaran Mahasiswa Baru Telah Dibuka! Amankan kursi masa depanmu sekarang juga. Klik untuk Daftar: pmb.alfarabi.ac.id
