ALFARABI.AC.ID – Ruang kelas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sejatinya tidak boleh berjarak dengan realitas luar. Lingkungan masyarakat, baik yang berupa bentang alam, jalinan sosial, maupun ruang buatan, merupakan laboratorium belajar yang kaya sekaligus otentik bagi anak usia dini. Pemanfaatan laboratorium alam ini diyakini mampu memberikan pengalaman langsung (direct experience) yang jauh lebih faktual serta melibatkan seluruh pancaindra anak.
Prinsip ekopedagogi itulah yang melandasi pergelaran Seminar Eco-Edu PAUD bertajuk “Cerdas Memanfaatkan Lingkungan & Kreatif Mengolah Bahan Bekas Menjadi Edukatif”. Hajatan ilmiah ini diinisiasi oleh Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Institut Nasional Nusantara Al Farabi (INN Al Farabi).
Acara yang berlangsung pada Rabu, 3 Juni 2026 ini bertempat di Pesantren Bina Dakwah, Jalan Jakarta 2, No. 80, Loa Bakung, Samarinda, Kalimantan Timur. Seminar ini menghadirkan dua figur akademisi sebagai pembicara utama, yakni Pitria Rutariana, M.Pd. (Wakil Direktur Aslam Islamic Learning Academy) selaku keynote speaker, serta Euis Trismayanti, M.Pd.I., M.Pd. (Ketua Prodi PIAUD INN Al Farabi) yang bertindak sebagai narasumber.
Membawa Dunia Nyata ke Dalam Kelas
Dalam paparannya, para pembicara menekankan bahwa pemanfaatan lingkungan sekitar memiliki setidaknya empat tujuan strategis bagi perkembangan anak. Pertama, meningkatkan keterlibatan dan motivasi belajar. Kedua, mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak—mulai dari kognitif, fisik-motorik, sosial-emosional, bahasa, hingga nilai agama dan moral. Ketiga, menumbuhkan kesadaran ekologis sejak dini. Keempat, memberikan pengalaman kontekstual yang menjembatani materi teoritis di kelas dengan dunia nyata.
Secara metodologis, para pendidik PAUD didorong untuk menerapkan dua strategi utama: 1. Aktivitas Luar Ruangan (Outdoor): Dilakukan melalui metode karyawisata (field trip) mengunjungi objek studi, pengamatan fenomena lingkungan, hingga praktik lapangan praktis di tengah masyarakat. 2. Aktivitas Dalam Ruangan (Indoor): Menghadirkan miniatur lingkungan melalui sentra belajar, mengundang narasumber profesi ke kelas, serta mengolah bahan alam dan limbah bekas menjadi media bermain.
“Satu ide kecil, dapat melahirkan pembelajaran besar dan bermakna,” demikian kredo penting yang ditekankan dalam seminar tersebut, merujuk pada pentingnya kolaborasi sinergis antara guru yang kreatif-inovatif dengan orang tua yang memberikan dukungan pengawasan di rumah.
Simulasi Praktis: “Kotak Kebaikan” dari Sampah Kardus
Tak sekadar membedah teori, seminar ini juga menyajikan demonstrasi praktis pengolahan limbah menjadi media edukatif bernilai tinggi. Salah satu contoh yang disimulasikan adalah pembuatan Kotak Infak atau Kotak Kebaikan yang memanfaatkan kardus atau kotak sepatu bekas.

Proses pembuatannya terbilang sederhana namun sarat makna. Bagian atas kardus dilubangi menyerupai celengan, lalu dihias bersama anak-anak dengan ilustrasi bertema tolong-menonjol. Di dalam kelas, kotak ini difungsikan setiap hari Jumat atau pada momen-momen tertentu. Anak-anak diajak untuk memasukkan koin infak atau gulungan kertas kecil berisi laporan perbuatan baik yang telah mereka lakukan hari itu.
Melalui media sederhana dari bahan bekas ini, institusi PAUD dapat menanamkan karakter mulia, menumbuhkan kebiasaan berbagi, sekaligus mengasah aspek Nilai Agama dan Moral (NAM) anak tanpa harus mengeluarkan biaya mahal.
Ingin Menjadi Pendidik PAUD yang Inovatif dan Berwawasan Ekologis?
Kreativitas dalam mengelola pendidikan anak usia dini seperti ini diajarkan secara mendalam di Program Studi PIAUD INN Al Farabi. Jangan lewatkan kesempatan untuk berkembang bersama perguruan tinggi yang berkomitmen mencetak generasi pendidik masa depan yang berkarakter dan adaptif.
Ayo Bergabung dan Jadi Bagian dari Perubahan!
Segera daftarkan diri Anda untuk kuliah di INN Al Farabi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Untuk informasi lebih lanjut mengenai pendaftaran mahasiswa baru, hubungi layanan informasi di WEB PMB INN AL FARABI
