ALFARABI.AC.ID — Masa depan sebuah bangsa tidak ditentukan di bangku universitas semata, melainkan sejak helaan napas pertama seorang anak manusia. Periode usia dini, yakni rentang usia nol hingga delapan tahun, merupakan fase krusial bagi pertumbuhan otak, intelegensi, kepribadian, hingga memori yang akan menjadi jangkar bagi kehidupan individu di masa depan.
Hal tersebut mengemuka dalam seminar pendidikan bertajuk “Early Childhood Education: Pendidikan Anak Usia Dini” yang digelar di Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (10/5/2026). Hadir sebagai pemateri utama, Euis Trismayanti, M.Pd.I., M.Pd., yang merupakan akademisi dari Institut Nasional Nusantara (INN) Al Farabi Pangandaran sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD).
Dalam paparannya, Euis Trismayanti, M.Pd.I., M.Pd. menekankan bahwa anak usia dini memiliki karakteristik unik yang membutuhkan pendekatan pendidikan khusus. Merujuk pada pemikiran Bredekamp, ia membagi kelompok usia dini ke dalam tiga fase: masa bayi hingga dua tahun, usia tiga hingga lima tahun, dan usia lima hingga delapan tahun.
“Proses pembelajaran terhadap anak harus memperhatikan karakteristik yang dimiliki dalam tahap perkembangan mereka. Jika pertumbuhan dan perkembangan pada masa ini terhambat, maka hal itu akan mengakibatkan hambatan yang berantai pada masa-masa selanjutnya,” ujar Euis Trismayanti, M.Pd.I., M.Pd. di hadapan para peserta.

Karakteristik dan Pola Perkembangan
Lebih lanjut, Euis Trismayanti, M.Pd.I., M.Pd. menjelaskan sepuluh prinsip perkembangan anak. Salah satunya adalah pemahaman bahwa perkembangan awal jauh lebih penting daripada perkembangan selanjutnya karena sangat dipengaruhi oleh proses belajar dan pengalaman yang dialami anak di lingkungan terkecilnya.
Dalam aspek kognitif, anak usia dini menunjukkan karakteristik berpikir simbolik dan egosentrisme, di mana fokus perhatian mereka masih sangat konkret. Secara fisik, berlaku hukum cephalocaudal, yakni perkembangan yang dimulai dari kepala kemudian menyebar ke seluruh tubuh hingga ke kaki.
“Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD, sebagaimana tertuang dalam Permendikbud Nomor 146 Tahun 2014, bukan sekadar tempat bermain, melainkan upaya pembinaan melalui pemberian rangsangan pendidikan. Tujuannya adalah membantu pertumbuhan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan memasuki pendidikan lebih lanjut,” tambah Euis Trismayanti, M.Pd.I., M.Pd.
Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STTPPA) menjadi acuan utama yang mencakup nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, hingga seni. Semua aspek ini harus tumbuh secara seimbang agar anak mampu mengelola emosi dan berinteraksi secara sehat di tengah masyarakat.
Filosofi Pohon Pisang
Di akhir sesi, Euis Trismayanti, M.Pd.I., M.Pd. membagikan pesan inspiratif mengenai dedikasi seorang pendidik. Ia menganalogikan peran guru seperti pohon pisang.
“Jadilah seperti pohon pisang, pantang tumbang sebelum berbuah. Seorang guru mungkin tumbuh dalam kesederhanaan, tetapi harus memiliki kekuatan luar biasa untuk memberi manfaat bagi sesama, menjaga keseimbangan hidup, dan pantang menyerah menghadapi tantangan,” tuturnya dengan puitis.
Seminar yang dipandu oleh moderator Siti Nurlaela ini menjadi pengingat bagi para orangtua dan calon pendidik bahwa investasi terbaik bagi kemanusiaan adalah melalui pengasuhan dan pendidikan yang tepat di usia dini.
Mari Menjadi Bagian dari Pencetak Generasi Emas
Apakah Anda terpanggil untuk menjadi pendidik profesional yang mampu membentuk karakter bangsa sejak usia dini? Bergabunglah bersama kami di Institut Nasional Nusantara (INN) Al Farabi dengan mengklik pendaftaran.
Dapatkan beasiswa pendaftaran kuliah dan fasilitas pendidikan berkualitas untuk mewujudkan mimpi Anda menjadi sarjana yang kompeten dan bermanfaat bagi umat.
INN Al Farabi: Cerdas, Berakhlak, dan Bermanfaat.
